Hanya Seorang Bulan Yang Murung

                 Gbr: Penyuka kopi yang tak minum kopi.

Seseorang melihatku dari sudut kos-kosan,             kusen pintu yang habis termakan rayap menyembunyikan diri bersamanya.
Daripada melihatku dengan tatapan iba,
Kita, hanya seorang bulan yang murung, diantara bulan lain di kota seribu pura ini.

Seseorang lainnya sedang mengintai,
Menitip pengelihatannya dari balik gorden usang yang sudah berbulan-bulan tak mengenal air.
Belek di matanya tampak mengisahkan kehidupan.
Lagi, kita hanyalah seorang bulan yang murung, diantara bintang kota denpasar.

Denpasar, 18 Juni 2021
Gang Melasti, sudut kos no. 3

Vaksinasi

#covid19vaksinasi

Hari ini saya divaksin. Sebelum disuntik, berbagai kesimpulan bergentayangan membuat saya takut dan juga bersyukur.

Takut, karena mungkin saya adalah calon. Bersyukur, karena mungkin saya terselamatkan.

Sebelum disuntik, tensi saya dicek. Ditanya apakah saya pernah kena covid, apakah ada penyakit bawaan, apakah dalam seminggu ini pernah demam, flu atau pilek. Apakah ada obat yang rutin dikonsumsi.

Vaksinasi ini tentunya akan mendapat sertifikat. Dan katanya, ini sangat berguna pada saat mudik dll.

Saya tidak tau pendapat teman-teman, tentang vaksinasi ini. Yang saya semogakan, tentunya saya tidak salah membuat kesimpulan.

Karena saya vaksinasinya di tempat rantau, tentunya sertifikat vaksinasi sangat saya butuhkan agar terbebas biaya jika nantinya akan pulang kampung.

Saya semogakan covid ini cepat berlalu.

Banjar Kesambi, 16 Mei 2021

Tidak ada yang meminta cacat.
Tak ada yang meminta gemuk.
Tak ada yang meminta miskin.
Tak ada yang meminta hitam.
Tak ada yang meminta keriting.
Tak ada yang meminta kurus.
Tak ada yang meminta bodoh.
Tak ada yang meminta culun.
Tak ada yang meminta gila.
Tak ada yang meminta penyakit.
Tak ada yang meminta untuk menjadi pencuri, pemulung, pengemis, maupun profesi yang tak diinginkan lainnya.

Kita hanya punya satu hati.
Hanya punya satu otak.
Kita hanya memerlukan dua kekuatan itu saja. Berubah semampunya, dan lupakan mulut mereka. Kunci kuping.
Karena kita adalah pemeran utama dalam hidup kita.

Denpasar, 11 Mei 2021

Semuanya Diselesaikan Dengan Kemarahan

Hati, barangkali ada yang bisa menyelamatkannya. Puncaknya sudah sangat lelah. Haruskah dengan kemarahan? Atau dengan mendiamkan? Atau dengan saling cuek?

Sebenarnya ada apa? Rasanya seperti mau meledak. Rasanya seperti tidak bisa bernafas. Rasanya seperti terlantarkan. Sepi? Aishhh,,, alih-alih berbaikan malah berbalik. Lebih baik tidur, daripada harus mengorbankan kuping.

Teruskan saja pergulatanmu. Aku sudah mengantuk. Lebih baik tidur, agar esok bangun dengan perasaan damai.

Denpasar, 06 Mei 2021

Mengenai Pagi

Kita, telah menyelesaikan malam yang tak mau disudahi. Kita, telah menyelesaikan mimpi yang belum usai. Kita, telah menyelesaikan hari kemarin yang membekas membawa kenang.

Kicau suara burung membuat kisruh. Kita. Telah sampai di pagi yang keberapa?

Raung. Decit. Derik. Suara dari tapak-tapak kaki mulai meninggalkan tempat persembunyian. Kehidupan dimulai lagi.

Embun menyapa, dan berakhir gugur ketika jemari antik berurat menyentuh. Sangat disayangkan. Begitulah embun menyelesaikan malamnya.

Kopi telah diseduh. Entah kopi kebrapa. Lagi, kehidupan dimulai.

Kemarin adalah sebuah cerita. Hari ini adalah hidup. Esok adalah harapan.

Denpasar, 28 April 2021

Tak Kupahami, Tak Kusudahi

Serangkai ” Percakapan Paling Panjang Prihal Pulang Pergi “. Menemani pagi yang usang. Sekumpulan kata begitu berarti. Mata dengkulku tak kunjung. Tak Kupahami. Tak kusudahi.

Seteguk teh disesap oleh bibir hitam berpucat. Mungkin dengan ini bisa membuka mata dan otak dengkulku. Seteguk lagi bisa! Mata telinga kelima indera. Tak kusudahi.

Alunan lagu untuk Tuhan begitu syahdu memikat. Seperti halnya berdoa. Kata paling baik adalah darinya.

Sudah sampai halaman lima puluh tiga. Inderaku bak diserang cobaan. Tak Kupahami. Tak kusudahi.

Denpasar, 21 Maret 2021

Nasib

Anjing itu masih terlelap.

Terlelap dalam ketidaktahuan sekaligus ketidakberdayaan.

Dengungan lalat yang mengintari tak digubrisnya.

Begitupula kicau burung yang juga terjerat dalam sangkar.

Tak dihiraukan olehnya.

Ia sudah lelah menggonggong.

Kukunya t’lah terkelupas karena, cakarannya pada tembok tua tak menuai hasil.

Dia masih ingin terlelap lebih lama lagi.

Karena rantai yang melilit lehernya masih terbilang kuat untuk sekedar berontak.

Denpasar, 18 Maret 2021

Guru SM3T Inspirasi Anak 3T

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada guru SM3T yang sudah pernah  datang mengajar di daerah 3T kami. Terimakasih pernah meluangkan waktu untuk datang di daerah kami, yang mungkin berbeda dengan daerah kalian. Bahagia dan setengah bingung. Mungkin seperti itulah kesan kami dulu saat pertama kalinya menerima ibu, sebagai guru baru kami.

“Uisshh…kita kedatangan guru baru dari Jawa teman-teman”, bisikku kepada teman-temanku.

Ngapain mereka datang jauh-jauh ke sini? Toh disana anak-anaknya pasti gak bandel kayak kita. Mungkin seperti itulah yang ada dibenak kami.

Waktu itu kami masih kekurangan guru untuk mengajar. Alhasil beberapa waktu kemudian, ada berita bagus untuk sekolah kami bahwa, akan ada 2 orang guru yang bakalan mengajar di sekolah kami. Mereka adalah guru SM3T yang berasal dari Jawa.

Sudah pasti perasaan kami sangat senang, dan tak sabar menunggu kedatangan mereka.

Hingga pada suatu hari, kami disuruh untuk berkumpul di depan ruang guru, karena belum ada lapangan khusus untuk berkumpul. Dan tak pernah ada upacara bendera pada hari senin. Dengan perasaan berdebar, kami menunggu mereka keluar dari ruangan guru. Akhirnya, munculah 2 orang guru berjilbab dengan senyumannya yang bersahabat. Mereka menyapa kami dan memperkenalkan dirinya masing – masing. Yang tubuhnya agak kecil namanya ibu Binti dan yang kecil satunya lagi tapi, agak besar namanya ibu Heslin😁🙏.

Setelah acara perkenalan itu selesai, kamipun diarahkan ke kelas masing-masing.

Ternyata oh ternyata, kelas kami di jam pertama ada les matematika dan beruntungnya mata pelajaran tersebut langsung diisi oleh guru baru tersebut. Iyah, diisi oleh Bu Heslin. Wahhh, senangnya hati kami…

Waktu kian bergulir. Dan kami semakin akrab dengan keduanya. Mereka sangat baik kepada kami dan cara mengajarnya kepada kami pun sangat mudah untuk bisa kami pahami.

Yah, mereka mulai jatuh hati kepada kami.

Tapi, pertemanan itu tak selamanya harus berjalan mulus. Kukatakan ‘pertemanan’ karena, mereka baik dan sudah seperti kakak kami. Mereka bercerita kepada kami, begitupun sebaliknya. Kami pulang sekolah jalan kaki, mereka juga ikut.

Pernah suatu hari kami membuat mereka marah, iyahh kami membuat Ibu Heslin marah, dan berujung tak mau mengajar di kelas kami. Waktu itu kami merasa bersalah dan akhirnya pergi ke ruangan guru untuk meminta maaf. Dan kami dimaafkan asal jangan mengulang kesalahan (*) yg sama.

Pengalaman hidup bersama mereka tentunya memiliki kenangan tersendiri untukku. Baik saat pertama kalinya, saya pergi ikut lomba di SMPN 1 Langke Rembong..dan berujung tak berhasil. Kemudian, diajak tidur rumah dikostan eh, lebih ke rumah kontrakan sih. Disitu saya (kami bertiga dari SMP Wae Ri’i ) bertemu dengan teman-temannya. Tentunya juga masing-masing dari teman-temannya tersebut membawa anak didikannya.

Karena malu dan mabuk seharian naik bemo, kami bertiga lebih memilih tidur di kamar, dan untuk pertama kalinya kami menonton film ‘Laskar Pelangi’ disitu. Film yang sangat bagus.

Masih banyak kenangan yang diukir bersama. Awal aku meminta menuliskan lirik dari lagu yang saya tidak tahu judulnya, tapi liriknya begini “Pagiku cerahku, matahari bersinar..ku gendong tas merahku..”

Kebersamaan itu tak berlangsung lama. Kebahagiaan itu juga berujung tangisan ketidakrelaan disaat mereka harus balik. Karena, masa untuk tugasnya selesai.

Sepanjang jalan menuju rumah, aku menangis tak menghiraukan teman-teman yang melihatku. Begitupun saat sampai di rumah. Aku mengabaikan semuanya.

“Tak kenal, maka tak sayang”

Pepatah itu memang benar.

Untuk Ibu Heslin dan Ibu Binti, Semoga suatu saat bisa ketemu lagi.


Gbr. Dari IGnya Ibu Heslin


Ternyata Ibunya masih sempat fotoin tulisanku dulu. Terimakasih Ibuuu🙏