Tak Kupahami, Tak Kusudahi

Serangkai ” Percakapan Paling Panjang Prihal Pulang Pergi “. Menemani pagi yang usang. Sekumpulan kata begitu berarti. Mata dengkulku tak kunjung. Tak Kupahami. Tak kusudahi.

Seteguk teh disesap oleh bibir hitam berpucat. Mungkin dengan ini bisa membuka mata dan otak dengkulku. Seteguk lagi bisa! Mata telinga kelima indera. Tak kusudahi.

Alunan lagu untuk Tuhan begitu syahdu memikat. Seperti halnya berdoa. Kata paling baik adalah darinya.

Sudah sampai halaman lima puluh tiga. Inderaku bak diserang cobaan. Tak Kupahami. Tak kusudahi.

Denpasar, 21 Maret 2021

Nasib

Anjing itu masih terlelap.

Terlelap dalam ketidaktahuan sekaligus ketidakberdayaan.

Dengungan lalat yang mengintari tak digubrisnya.

Begitupula kicau burung yang juga terjerat dalam sangkar.

Tak dihiraukan olehnya.

Ia sudah lelah menggonggong.

Kukunya t’lah terkelupas karena, cakarannya pada tembok tua tak menuai hasil.

Dia masih ingin terlelap lebih lama lagi.

Karena rantai yang melilit lehernya masih terbilang kuat untuk sekedar berontak.

Denpasar, 18 Maret 2021

Guru SM3T Inspirasi Anak 3T

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada guru SM3T yang sudah pernah  datang mengajar di daerah 3T kami. Terimakasih pernah meluangkan waktu untuk datang di daerah kami, yang mungkin berbeda dengan daerah kalian. Bahagia dan setengah bingung. Mungkin seperti itulah kesan kami dulu saat pertama kalinya menerima ibu, sebagai guru baru kami.

“Uisshh…kita kedatangan guru baru dari Jawa teman-teman”, bisikku kepada teman-temanku.

Ngapain mereka datang jauh-jauh ke sini? Toh disana anak-anaknya pasti gak bandel kayak kita. Mungkin seperti itulah yang ada dibenak kami.

Waktu itu kami masih kekurangan guru untuk mengajar. Alhasil beberapa waktu kemudian, ada berita bagus untuk sekolah kami bahwa, akan ada 2 orang guru yang bakalan mengajar di sekolah kami. Mereka adalah guru SM3T yang berasal dari Jawa.

Sudah pasti perasaan kami sangat senang, dan tak sabar menunggu kedatangan mereka.

Hingga pada suatu hari, kami disuruh untuk berkumpul di depan ruang guru, karena belum ada lapangan khusus untuk berkumpul. Dan tak pernah ada upacara bendera pada hari senin. Dengan perasaan berdebar, kami menunggu mereka keluar dari ruangan guru. Akhirnya, munculah 2 orang guru berjilbab dengan senyumannya yang bersahabat. Mereka menyapa kami dan memperkenalkan dirinya masing – masing. Yang tubuhnya agak kecil namanya ibu Binti dan yang kecil satunya lagi tapi, agak besar namanya ibu Heslin😁🙏.

Setelah acara perkenalan itu selesai, kamipun diarahkan ke kelas masing-masing.

Ternyata oh ternyata, kelas kami di jam pertama ada les matematika dan beruntungnya mata pelajaran tersebut langsung diisi oleh guru baru tersebut. Iyah, diisi oleh Bu Heslin. Wahhh, senangnya hati kami…

Waktu kian bergulir. Dan kami semakin akrab dengan keduanya. Mereka sangat baik kepada kami dan cara mengajarnya kepada kami pun sangat mudah untuk bisa kami pahami.

Yah, mereka mulai jatuh hati kepada kami.

Tapi, pertemanan itu tak selamanya harus berjalan mulus. Kukatakan ‘pertemanan’ karena, mereka baik dan sudah seperti kakak kami. Mereka bercerita kepada kami, begitupun sebaliknya. Kami pulang sekolah jalan kaki, mereka juga ikut.

Pernah suatu hari kami membuat mereka marah, iyahh kami membuat Ibu Heslin marah, dan berujung tak mau mengajar di kelas kami. Waktu itu kami merasa bersalah dan akhirnya pergi ke ruangan guru untuk meminta maaf. Dan kami dimaafkan asal jangan mengulang kesalahan (*) yg sama.

Pengalaman hidup bersama mereka tentunya memiliki kenangan tersendiri untukku. Baik saat pertama kalinya, saya pergi ikut lomba di SMPN 1 Langke Rembong..dan berujung tak berhasil. Kemudian, diajak tidur rumah dikostan eh, lebih ke rumah kontrakan sih. Disitu saya (kami bertiga dari SMP Wae Ri’i ) bertemu dengan teman-temannya. Tentunya juga masing-masing dari teman-temannya tersebut membawa anak didikannya.

Karena malu dan mabuk seharian naik bemo, kami bertiga lebih memilih tidur di kamar, dan untuk pertama kalinya kami menonton film ‘Laskar Pelangi’ disitu. Film yang sangat bagus.

Masih banyak kenangan yang diukir bersama. Awal aku meminta menuliskan lirik dari lagu yang saya tidak tahu judulnya, tapi liriknya begini “Pagiku cerahku, matahari bersinar..ku gendong tas merahku..”

Kebersamaan itu tak berlangsung lama. Kebahagiaan itu juga berujung tangisan ketidakrelaan disaat mereka harus balik. Karena, masa untuk tugasnya selesai.

Sepanjang jalan menuju rumah, aku menangis tak menghiraukan teman-teman yang melihatku. Begitupun saat sampai di rumah. Aku mengabaikan semuanya.

“Tak kenal, maka tak sayang”

Pepatah itu memang benar.

Untuk Ibu Heslin dan Ibu Binti, Semoga suatu saat bisa ketemu lagi.


Gbr. Dari IGnya Ibu Heslin


Ternyata Ibunya masih sempat fotoin tulisanku dulu. Terimakasih Ibuuu🙏

Jejak Darah

Gbr. Tanganku kekuatanku

Entah sudah ditinggalkan beberapa kali. Entah sudah diasingkan selama apa lagi. Menanggalkan tapi, meninggalkan. Sama halnya tai, baunya akan tetap menyebar. Dia ada, tapi dimana pemiliknya?

Berseteru dengan luka. Pemiliknya kabur dengan berdarah panas. Entah siapa yang berbaik hati membasuh. Membasuh luka yang teramat dalam. Teramat lambat tuk ditolong.

Sesuka hati.. Semau hasrat bertingkah. Tidak ada ampun untuk sekedar meronta.

Ayolah..

Jangan ada lagi. Hargailah darah kami.

#Internasionalwomansday

Denpasar, 08 Maret 2021

Sate Bumbu Favorit

Gbr. Diambil pada saat Bu Putu sedang melayani pembeli lain hehe.

Oke, judulnya adalah ‘sate bumbu favorit’.. Dimana bumbu favoritnya itu adalah bumbu kacang. Bumbu yang paling di sukai oleh gadis berambut keriting kusam ini. Disini ada yang pernah dikacangin? Baguslah kalo tidak pernah, tapi kalo pernah ayuk kita sama-sama embat si ‘sate bumbu favorit’ ini.

Daripada galauin dia, yah enggak? hehe canda galau..

*kepada Bu Putu (bukan nama sebenarnya) maaf kami udah nyolong fotoin satenya (daripada nyolong sate kan gk etis hehe)🙏

Denpasar, 08 Maret 2021

Sudah PDkah Aku?

Setidaknya saya bangga dengan diri saya sendiri. Tidak harus berubah untuk cantik. Sebaliknya tak harus cantik biar percaya diri. Cantik itu bukan tentang putih saja. Bukan tentang mancung saja. Atau juga hal yang lainnya. Cantik itu tentang menerima diri apa adanya. Dan tergantung juga pada kornea orang yang mendefinisikannya hehe..

Denpasar, 10 Januari 2021